#navbar-iframe{opacity:0.0;filter:alpha(Opacity=0)} #navbar-iframe:hover{opacity:1.0;filter:alpha(Opacity=100, FinishedOpacity=100)}

Sabtu, 10 Maret 2012

orang berdedikasi tinggi wajib ngerti jawaban ini?


Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?

"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?" "Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita รข€“ cita penyempurnaan iman ".

"Maksudnya.. ...?", saya melanjutkan bertanya.

"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".

Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.

Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".

"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".


10 Hewan Yang Paling Sulit Ditemukan di Bumi !

Makhluk-makhluk ini berada di tempat-tempat tersembunyi seperti kedalaman laut atau gua yang sangat dalam. Hewan-hewan berikut ini mungkin bukan yang paling indah, tetapi mereka adalah jenis hewan yang paling sulit ditemukan di bumi. 10. Solenodon

Solendon adalah mamalia kecil yang berasal dari Kuba dan Hispanola. Makhluk ini sangat mirip dengan tikus, ia memiliki moncong panjang dan ekor bersisik. Namun, Solenodon memiliki moncong yang fleksibel sebagai kebalikan dari tikus kesturi. Ciri khas lain dari hewan ini adalah bahwa hewan ini sangat beracun. Solenodon adalah satu-satunya mamalia yang dapat menyuntikkan mangsanya dengan bisa racun ular. Jadi yang terbaik adalah mundur jika Anda menemui makhluk ini, karena mereka akan jatuh lalu menggigit di atas topi Anda.
9. Kakapo

Kakapo adalah satu-satunya kakatua yang tak bisa terbang di planet ini. Sedangkan sepupu mereka melakukan perjalanan melalui udara, spesies ini memilih untuk berjalan kaki atau naik dari tempat satu ke tempat lainnya. Burung ini dapat ditemukan di Selandia Baru dan sering disebut sebagai burung beo hantu. Makhluk ini mendapat julukan dari bentuk cakram bulu di sekitar mata. Burung beo ini juga ditetapkan sebagai burung beo terbesar dengan berat mencapai 8 kg.
8. Olm

Olm adalah amfibi yang berasal dari Eropa, terutama dapat ditemukan di Italia. Makhluk ini memiliki tubuh panjang berwarna putih, dengan empat kaki kecil. Sekilas terlihat sangat mirip dengan ular kecil. Kadal ini menghabiskan hidupnya di gua-gua bawah tanah. Makhluk ini mempunyai mata yang tidak berkembang dan benar-benar buta. Walaupun Olm tidak dapat melihat bukan berarti tak berdaya. Olm mengkompensasi kekurangan penglihatan dengan pendengaran yang luar biasa dan indera penciuman.
7. Kelelawar Bumblebee

Kelelawar Bumblebee dapat ditemukan di gua-gua batu kapur, Tenggara Thailand dan Burma. Bumblebee dewasa panjangnya hanya satu inci dari kepala ke ekor. Kelelawar ini tumbuh dengan memiliki fitur lain yang membedakannya, yaitu moncongnya yang menyerupai moncong babi. 6. Ichthyophis Kohtaoensis

Ichthyophis Kohtaoensis adalah amfibi langka yang asli Kamboja, Laos dan Thailand. Makhluk ini memiliki tubuh seperti ular panjang dengan ekor runcing. Reptil ini memiliki tubuh abu-abu gelap dengan perut kuning. Salah satu fitur yang membuat unik reptil ini adalah fakta bahwa ia memiliki dua otot yang mengontrol rahang.
5. Hiu berjumbai

Hiu berjumbai adalah sebuah keanehan di dunia hewan. Sampai abad ke-19 para peneliti berpikir hewan ini sudah mati bersama dinosaurus. Namun, ini terbukti tidak benar, karena beberapa nelayan pernah menangkapnya dan juga beberapa penemuan bangkai makhluk ini. Hiu ini terlihat mirip dengan belut, ia memiliki tubuh memanjang. Hiu berjumbai memiliki kepala berbentuk segitiga dengan tubuh abu-abu panjang. Hiu ini tidak memiliki sirip punggung besar, berbeda dengan sebagian besar spesies hiu lainnya.
4. Monito Del Monte

Monito Del Monte adalah istilah Spanyol untuk "monyet kecil". Tapi nama ini menipu. Monito Del Monte sebenarnya adalah marsupial yang hidup di Chili dan Argentina. Spesies mamalia ini dianggap punah lebih dari 11 juta tahun yang lalu. Namun, penjelajah modern menemukan makhluk ini di era modern.
Marsupial kecil ini memiliki tubuh tikus dengan bulu coklat dan besar, telinga runcing dan ekor panjang. Fitur yang membedakan hewan ini adalah matanya yang besar dan ia hidup di pohon-pohon di hutan hujan. Ekor panjang ini membantu ia untuk berayun dari cabang-cabang.
3. Addax

Jenis Kijang ini sedikit sekali ditemukan di gurun Sahara. Mereka terlihat seperti banyak spesies kijang lain, namun setelah pemeriksaan lebih lanjut mereka sebenarnya sangat berbeda. Spesies ini memiliki gigi persegi seperti sapi. Juga, tanduk pada spesies ini sangat panjang dan melengkung, sehingga memiliki julukan "Kijang Tanduk Sekrup". 2. Dugong

Dugong adalah hewan laut besar yang sangat menyerupai Manatee. Sementara makhluk-makhluk sejenis yang berada dalam keluarga yang sama disebut Sirenia, mereka berbeda dari Manatee. Dugong dapat ditemukan di perairan utara Australia dan ke dalam wilayah Indio-Pasifik. Mamalia ini memiliki tubuh abu-abu panjang dengan dayung seperti sirip ke arah kepala.
Ekor hewan ini terlihat mirip dengan ekor lumba-lumba. Juga, makhluk ini memiliki mulut yang keluar di samping dan berada dalam posisi yang lebih berbalik ke bawah, sehingga mudah untuk memakan rumput di kehidupan vegetatif dasar laut.
1. Saola
Saola sejauh ini merupakan mamalia yang paling langka di Bumi. Makhluk ini adalah asli Vietnam dan Laos. Hewan ini tumbuh dengan tinggi sekitar 3 meter. Sekilas terlihat mirip dengan kambing. Mamalia ini memiliki ekor kecil dan telinga panjang. Namun, hewan ini memiliki pola yang sangat berbeda dengan kambing. Ia memiliki bintik-bintik putih dan garis-garis pada wajahnya.

Israel - Surga Gay dan Lesbian Arab...namnya juga kaum sodom zionis

Hak-hak Lesbian dan gay di Israel dianggap yang paling maju dan berkembang di Timur Tengah. Berbeda dengan negara timur tengah lainnya, Israel sangat melindung kaum minoritas ini.

Para gay dan lesbian dari Iran, Saudi Arabia, Kuwait, Irak, dan negara sekitar, datang untuk berlibur di Israel. Jika di negara asal mereka, mereka harus berpasangan dengan sembunyi-sembunyi, di Israel, para gay dan lesbian dapat memegang tangan pasangan mereka tanpa rasa takut. Mereka dapat berpelukan dan mencium pasangan mereka tanpa rasa khawatir.

Israel memang Oasis bagi gay dan lesbian di timur tengah. Walaupun akhir-akhir ini Lebanon dan Turki ikut-ikutan bersaing untuk mendapatkan turis gay dan lesbian dari timur tengah.

Salah satu gebrakan terbaru adalah pasangan gay dan lesbian dapat mengadopsi anak dan melakukan inseminasi buatan. Israel juga mengenal pernikahan sesama jenis.

Para pasangan gay dan lesbian di Israel senang menghabiskan waktu di taman dan pantai.

61 persen penduduk Israel mendukung pernikahan sesama jenis.

Di Israel, Jordania, Turki, Irak, dan Siprus, homoseksualitas antara 2 orang dewasa adalah LEGAL. Israel merupakan negara pertama di Asia yang mengeluarkan peraturan anti-diskriminasi untuk gay dan lesbian.

Isreal dapat dikatakan : IBUKOTA GAY DI TIMUR TENGAH hahaha

semoga kesetaraaan ini bisa menyebar ke negara timur tengah lainnya, dan juga indonesia

berikut berapa foto-foto para gay dan lesbian di Israel :










































Suku Dayak Pemburu Kepala Dari Kalimantan !

Smoked_heads_of_slain_enemies_Indonesian_Borneo
Shrunken smoked heads of slain enemies
Deep in the steamy jungle of Borneo, the bold English ethnologist hacked away with his machete to make headway through the dense vegetation. The short, sharp parang was designed to be drawn quickly, the better to strike for the neck. Yet while Charles Hose no doubt carried a blade during the many days and nights he spent living among the peoples of Borneo, this fanatical observer of the cultures of the huge Southeast Asian island was also armed with a subtler colonial weapon: the camera. Hose took many a well-aimed shot, and among his focus were Borneo’s headhunters. Still, he wasn’t the only snap-happy white chappie sporting britches and taking pictures; others, like the Dutch, were at it too.
Gallery inside a Kayan Dayak house with skulls and weapons lining the wall
gallery_inside_Kajan_Dayak_house_with_skulls_and_weapons_along_the_wall
Photo 1900-1930
In truth, Charles Hose was armed not just with a camera but with a pen. Stationed on Borneo as the Resident Magistrate during British Imperial rule there, this intrepid investigator recorded all he saw in his book, The Pagan Tribes of Borneo, published in 1912, and this included a discourse on headhunting:
“It is clear that the Ibans are the only tribe to which one can apply the epithet head-hunters with the usual connotation of the word, namely, that head-hunting is pursued as a form of sport,” write Hose, though he later states that these same people “are so passionately devoted to head-hunting that often they do not scruple to pursue it in an unsportsmanlike fashion.”
Ibu Dayak warrior headhunters from Longnawan, North Borneo
Ibu_Dayak_warrior_headhunters_from_Longnawan,_North_Borneo
Photo circa 1927
Before we get lost in confusion over what does and does not constitute sporting headhunting, let’s just be clear that the Iban are a branch of Borneo’s indigenous Dayak peoples. This sub-group of natives became known as Sea Dayaks to Westerners during the colonial era under the dynasty of James Brooke (1803-1868), the Rajah of Sarawak, which is one of Borneo’s Malaysian states.
The violent exploits of the Sea Dayaks in the South China Sea are well documented, due in no small part to their aggressive culture of war against emerging Western trade interests in the 19th and 20th centuries. James Brooke and his Malays gave as good as they got, however, attacking and wiping out 800 of the scurvy pirates. The Ibans also became notorious for headhunting, even if their being branded as pioneers of the practice was unfortunate, and perhaps off the mark.
Dayak man in possession of two heads on strings
Dayak_man_carrying_two_heads
Photo 1900-1940
Charles Hose himself thought it “probable” that the Ibans “adopted the practice [of headhunting] some few generations ago only… in imitation of Kayans or other tribes among whom it had been established,” and that “the rapid growth of the practice among the Ibans was no doubt largely due to the influence of the Malays, who had been taught by Arabs and others the arts of piracy.”
Modern sources less prone to imparting blame tie in the beginnings of this grisly activity among the Ibans with their territorial and tribal expansionism. As their own areas became overpopulated, they were forced to intrude on lands belonging to other tribes – trespassing which could only lead to death at a time when brutal confrontation was the only means of survival.
Armed Dayaks busy with the scull of a head-hunted enemy, Central-Borneo
Group_of_armed_Dayaks_busy_with_the_scull_of_a_head-hunted_enemy_in_Tubanganoi,_Central-Borneo.
Photo 1894
Headhunting was also undoubtedly an important part of Dayak culture more widely. A tradition of retaliation for old headhunts kept the ritual alive until it was curtailed and then gradually stamped out by outside interference – namely, the reign of the Brooke Rajahs in Sarawak and the Dutch in Kalimantan Borneo – in the 100 years leading up to World War II.
Early on, Brooke Government reports describe war parties of Iban and Kenyah people – another group of tribes to whom headhunting was culturally important – in possession of captured enemy heads. Yet later on, with the exception of massed raids, the practice of headhunting was limited to individual retaliation attacks or occurred as the result of chance encounters.
Shaven-headed Dayak bearing a spear with a parang hanging from his side
bald_headed_Dayak_with_spear
Photo circa 1920
Even so, by Charles Hose’s time headhunting was evidently still enough of an issue for the ethnologist to devote sections of his book to the subject. Hose even went so far as to explore possible explanations for the habits and beliefs that may have underlain and supported this macabre ferocity, offering two possible theories:
“That the practice of taking the heads of fallen enemies arose by extension of the custom of taking the hair for the ornamentation of the shield and sword-hilt,” and that: “The origin of head-taking is that it arose out of the custom of slaying slaves on the death of a chief, in order that they might accompany and serve him on his journey to the other world.”
Medicine men of the Dusun-Dayaks in West Borneo
Medicine_men_Dayaks_of_West_Borneo
Without wishing to cast too much doubt on Hose’s discerning colonial eye, contemporary scholars have offered slightly different views on what headhunting meant to the people who practiced it. Within the complex polytheist and animist beliefs of the Dayaks, beheading one’s enemy was seen as the way of killing off for good the spirit of the person who had been slain.
The spiritual significance of the ceremony also lay in the belief that it ushered in the end of mourning for the community’s dead. The heads were put on display at traditional burial rites, where the bones of relatives were exhumed from the earth and cleaned before being put in burial vaults. Ideas of manhood were also bound up with the practice, and the taken heads were surely prized.
Dayak chief in full traditional war dress
Dayak_chief_in_full_war_gear
Photo 1900-1940
Those who might sit snugly behind the idea that these barbaric practices lie far from Western civilised standards may want to think again. During WWII, Allied troops are known to have collected the skulls of dead Japanese as trophies. In 1944 Life published a photo of a young woman posing with a signed skull sent to her by her Navy boyfriend, an event that caused public outrage.
Under Allied direction, the Dayaks themselves retaliated against the Japanese with their brand of guerrilla warfare following ill treatment by the occupying forces. The gruesome tradition temporarily reared its head again as US airmen and Australian special operatives turned inland tribesmen into a thousand-man headhunting army which killed or captured some 1,500 Japanese soldiers.
War worker with Japanese skull sent by her Navy boyfriend
War_worker_with_Japanese_skull_sent_her_Navy_boyfriend